Selasa, 02 Februari 2010

Bogor ijo royo-royo

Bogor hijau pohonnya besar-besar dan rimbun, udara dingin terasa hingga matahari diatas kepala, jalanan teduh dan udara segar selalu ada setiap saat...tapi itu dulu 30 tahun yang lalu..saat kendaraan yang lewat dapat dihitung dengan jari. Saat tiap malam hiburan yang didapat cuma dari TVRI dan restoran yang terkenal mewah masih restoran lautan dan bogor permai, saat supermarket hanya berupa toko besar bernama "dezon". Setiap lebaran ibu hanya mampu membelikan baju dari deretan toko cina yang ada di pasar bogor itu pun sering seragam dengan anak tetangga karna saking sedikitnya toko yang ada di bogor.

Saat itu dongeng kuntilanak dan wewe gombel membuat kami anak-anak tangsi selalu menghindari pohon-pohon besar di komplek kami, terutama pohon randu alas dekat kantor bapak yang walaupun terasa menyeramkan tapi aku selalu merasa hommy saat melewatinya. Bogor dulu terutama di komplekku surga bagi kami untuk mengambil ikan wader dan udang sungai yang akan kami goreng dengan minyak hasil colongan di dapur ibu. Surga bagi kami untuk bisa mengambil buah-buahan dari pohon tanpa pemilik karna tumbuh sembarang dan tak tahu siapa yang menanam. Surga bagi kami untuk bermain di lapangan yang penuh rumput teki tanpa takut tersambar mobil atau motor. Bogor kota yang selalu membuat aku kangen ketika 6 tahun harus kulewati dikota serang yang panas dan gersang.

Tapi sekarang...satu-satu pohon tumbang bahkan the legend pohon di depan rumah sakit salak tumbang tampa kena angin atau hujan. Bogor ku semakin panas dengan hiruk pikuk pendatang yang tak merasa memiliki kota ini, padahal mereka benaranak pinak di kota ini yang mungkin suatu saat akan menjadi kota anak cucunya.

Bogor ku semakin tua dan merana, pedagang kaki lima betebaran dimana-mana, mobil-mobil baru berseliweran menambah polusi ditambah lagi sejuta angkot yang tak tahu kapan akan berkurang. Bogorku semakin hijau bukan karna tumbuhan dan pohon tapi angkot.

Aku tahu belum berbuat apapun buat kota ini. Kota yang aku cintai, suatu saat aku ingin menemukan jalan untuk berbuat sesuatu yang berguna untuk kotaku. Secepatnya harus aku cari hingga bogorku tak makin merana.

Tidak ada komentar: